Jumat, 29 November 2013

Pizza


Sudah lama banget nih gak nulis menulis. Bukannya saya sok sibuk, tapi emang beneran sibuk. hehe. Ditambahin males juga sih. Oiya ini bikinnya udah lama juga sih beberapa hari yang lalu. Pizza nya pun udah ludesss. Tapi toh saya masih punya hutang buat share resep si pizza tanpa ngulenin ini.

Hai haaai Liesa. Temen saya di Padang nun jauah di mato sana. Maap pake lama yo nduk.
Dan tak lupa saya ucapkan banyak- banyak terimakasih untuk apresiasi pemirsah atas blog ini. Yang sudah mengirimkan saya email. Dari beberapa teman, sahabat dan kenalan baru di dunia maya. Dari sabang sampe Merauke, dari satu negara dan belahan benua lainnya. Smoga kalian dalam keadaan sehat semua. Mudah-mudahan yang baca gak tambah bingung dengan bahasa saya yang seadanya ini yah. Hehe ^^

Okey, back to topic. Ini pizza praktis tanpa ngulenin. Hah? koq bisa? saya juga gak percaya sih pas pertama baca-baca resep nya mbak Endang ini. Tapi pas dicobain eh ternyata beneran gampang looh. Hanya memberdayakan kulkas. 

Ini juga dalam rangka setran perdana saya di grup Pawon Ibu. Grup yang digawangi oleh Mbak Yulyan dkk. Haloo mbak Eeyand. Saya suka banget deh sama foto hasil karya beliau. Terlihat ada jiwa nya, dan ke ciri banget deh. Emang harusnya gitu yah. Foto kita gak perlu di watermark pun udah keliatan khas. Tapi ya namanya daripada daripada tetep harus ada hak cipta. haiiish*




Adonan Pizza Tanpa Diuleni. Resep yang ambil dari blog milik mbak Endang. Thx for translate this receipe.

Resep diadaptasikan dari web King Arthur Flour, Blog - No-Knead Thin-Crust Pizza: it doesn't get any easier than this 

Bahan adonan  pizza:
- 150 ml air hangat
- 2 sendok makan minyak zaitun atau minyak sayur biasa
- 1 sendok teh ragi instan, pastikan fresh dan cek masa kedaluarsanya (misal Fermipan)
- 1/2 sendok teh garam
- 180 gram tepung terigu serba guna atau protein tinggi (misal Segitiga Biru atau Cakra Kembar)

Saus:
- 3 sendok makan saus spaghetti bolognese botolan siap pakai ( saya pakai saus tomat homemade)
- sedikit oregano dan bay leaves ( italian seasoning )
- 1 sendok teh gula pasir
- 1 sendok makan saus tomat botolan

Topping:
- ayam cincang dengan tumisan bawang bombay bersama wortel parut dan jagung pipilan
- daging cincang ditumis dengan bawang bombay, bumbui dengan lada, pala dan garam
- Jamur Kancing/ Champignon yang sudah dalam bentuk slice/ irisan 
- saus tomat homemade
- mayonese 
- keju di parut ( saya pake creamcheese)
- mozarella ( saya gak pake karena emang gak ada stok)

Cara membuat:

Siapkan mangkuk, masukkan tepung terigu dan garam, aduk rata dengan spatula. Masukkan semua bahan adonan pizza lainnya,  aduk hingga semua bahan tercampur rata dan menjadi adonan yang kasar, lembek dan agak basah. 

Tutup mangkuk dengan kain, biarkan di suhu ruang selama 1 jam hingga mengembang. Masukkan adonan ke kulkas dan biarkan 1 - 2  jam lagi dalam posisi tertutup kain. Adonan boleh didiamkan di kulkas maksimal hingga 7 jam. Semakin lama adonan diisitirahatkan maka roti akan terasa semakin sedap. 

Selama adonan diistirahatkan kita akan mempersiapkan bahan-bahan lainnya. 


Menata pizza:

Panaskan oven di suhu 200'C.  

Siapkan loyang, saya menggunakan loyang besi bulat diameter + 30 cm. Anda bisa menggunakan loyang lainnya yang ada di rumah dan bentuknya juga tidak harus bulat ya.

Keluarkan adonan pizza dari kulkas, letakkan di atas loyang. Menggunakan ujung-ujung jari tekan-tekan adonan hingga melebar dan memenuhi loyang. Usahakan setiap permukaan adonan memiliki ketebalan yang sama. Adonan lembek, tidak lengket dan mudah diatur. 

Tusuk- tusuk adonan menggunakan garpu. Merata.

Masukkan ke oven panggang selama kurleb 20- 25 menit. Sampai kecoklatan, lalu keluarkan.

Olesi permukaan adonan dengan saus, gunakan kuas untuk mempermudah pekerjaan anda. Jika tidak ada bisa menggunakan ujung spatula plastik. Tata topping.

Panggang pizza selama 15 menit atau hingga roti terlihat mulai kecoklatan dan kering permukaannya. Menjelang 5 menit, matikan api bawah, gunakan hanya api atas saja. Keluarkan dan potong-potong selagi hangat. Jika anda tidak memiliki pizza cutter, gunakan saja gunting untuk memotongnya. Praktis, rapi dan cepat.

Santap selagi hangat. 


Source:
Web King Arthur Flour, Blog - No-Knead Thin-Crust Pizza: it doesn't get any easier than this



Hasilnya memang tidak se empuk dengan pizza yang dijual di PH. Tapi menurut selera suami saya. Ini baru yang namanya pizza. Berbeda dengan pizza yang ada di Indonesia yang cenderung dough nya lembut seperti roti dengan ketebalan yang super duper. Sedangkan pizza jenis ini lebih krenyes dan garing.

Lumayan deh gak usah capek ngulenin. Cocok banget buat yang gak doyan ribet seperti saya sekarang ini. Gak banyak makan waktu. Karena untuk isian saya udah menyicil bikinnya. cerdas bukan? hihi. ^^

kalo Sarah mah, doyan beraaat. Habis selesai sesi foto-foto, itu tanagn mungilnya langsung nyomoot sesuka hati. Yang ada di kamus Sarah ini enak dan enaaaaak banget.







Selamat Mencoba.


***

Balikpapan, 29 November 2013

Jumat, 22 November 2013

Potato Churros



Masih dalam rangka #1 DSB challenge. Temanya Kentang. Kemaren udah sempet nyetor sih, cuma gak puas sama fotonya yang asli blawuuuur banget. Padahal resepnya super praktis. Mini burger Kentang. InsyaAllah nanti kalo sempat saya posting juga disini. 

Anyway, udah lama penasaran sama cemilan yang berasal dari negara Spanyol ini. Yup, Churros dengan dobel r ya. Males ngedit huruf yang di foto itu. hehe. Saya liat resep ini pertama kali di buku resepnya bu Sisca. Eh erus, ketemu lagi pas liat di sebuah majalah. Trus, banyak juga foodblogger berseliweran udah eksekusi resep ini. 

Si churros ini, sebenernya bisa di tambah dengan kentang atau labu kuning disini biasa disebut Waluh. Rasanya manis. Beda loh sama Kabocha.

Tapi karena temanya harus kentang, yasudahlag saya bikin pake kentang aja. Next time penasaran pengen bikin pake waluh. Mungkin lebih manis kali ya. ^^




Resep 

Bahan :

- 180 gr Kentang / labu kuning ( saya timbang setelah saya kukus dan haluskan, kurang lebih dari 3 kentang ukuran sedang )
- 180 gr tepung terigu
- 2-3 butir telur ( saya pake 3 butir karena telur ukuran kecil)
- 250ml susu cair ( bisa diganti dengan air)
- 115 Margarin / mentega ( saya pakai margarin)
- 1/4 sdt garam
- 1 sdm susu bbuk / gula halus
- Keju parut cheddar ( lupa gak nimbang sepertinya sekitar 50gr)

Topping :
DCC yang di tim bersama butter
gula halus untuk dusting

Cara membuat :
- Panaskan susu bersama margarin di panci, lalu nyalakan api. Aduk hingga margarin larut.
- Masukkan kentang dan keju. Sambil terus diaduk
- BUmbui dnegan garam dan gula halus/ susu bubuk
- Masukkan terigu sedikit demi sedikit sambil terus diaduk
- Aduk memakai spatula, hingga tidak bergerindil. Sampai kalis yakni adonan sudah tidak lengket di panci. Matikan api. Angkat dan dinginkan
- Ambil mixer atau spatula aduk adonan, hingga uap air hilang. Tidak terlalu panas bila disentuh jari
- Masukkan telur satu persatu sambil aduk menggunakan mixer. Sampai agak lengkat dan dingin matikan mixer.
- Masukkan ke dalam plastik segitiga. Gunakan spuit bintang yang besar. ( Saya gak sabar, jadi pake spuitnya cuma sedikit).
- Siapkan loyang yang ditaburi tepung
- Bentuk sesuai selera di loyang. Panjang, melingkar dan bebas berkreasi.
- Masukkan loyang ke dalam frezzer. Simpan minimal 2 jam. Hingga agak mengeras
- Baru siapkan minyak goreng di wajan
- Goreng hingga kecoklatan. Sajikan hangat menggunakan topping gula halus dan coklat leleh.

Catatan : Adonan bisa disimpan terus di dalam frezzer. Ambil sedikit lalu goreng sesuai kebutuhan. Tahan sampai dnegan 3 hari di dalam frezzer. 




Hasilnya, mirip kue sus yang di goreng. Dengan bagian tengah yang kosong sebenernya enak juga kalo dikasih filling mirip-mirip antara eclairs dan donat. Tapi kalo donat kan pake acara dibanting-bantik dan pake ragi. kalo ini kan enggak sama sekali. Bikinnya gak makan waktu banyak sih, kecuali pas ngebentuk nyepuit nya itu loooh. Hadeeeh bikin gak sabaran, karena spuit saya bentuknya kekecilan. Jadi lamaaaa banget nyepuitnya. Akhirnya gak sabar, saya bikin asal jadi aja. Hehe ^^




Selamat Mencoba.

***

Balikpapan, 22 November 2013

Kamis, 21 November 2013

Ayam Goreng "Pok-Pok"


Kali ini saya ingin membagi resep yang lumayan udah pada hapal mati kayaknya dikalangan Ibu-Ibu. Tapi menjadi hal yang tak mudah, untuk seorang istri yang baru saja terjun ke dapur. Yup, bisa dibilang sering banget adik-adik saya yang baru melangkah di dunia perumah tanggaan ini tanya resep inilah itulah. Dan selalu dengan sigap saya tuliskan. Mulai dari bumbu yang paling simple. termasuk ayam goreng ini. Halo-halo adik-adikku tersayang di Jogja dan Jakarta. Winny dan Lisa. Ni mbakmu tulisin disini yah, biar gak bolan-balen takon wae nganti bosen. 

Oiya, kenapa namanya Ayam Goreng 'Pok-pok'? Ini dinamakan sama Sarah El Hurriyah. Karena setiap ketemu ayam baik hidup ataupun mati, Ia selalu menamaknnya dengan ayam pok-pok. Hehe. lucu yah. ^^








Rabu, 20 November 2013

Nagasari Hunkwe

Kemarin tepatnya saya sengaja order ke tuksay untuk dibelikan pisang raja. Karena emang niat mau bikin kue cemilan untuk ngaji. Semangat 45 dan bambu runcing. Tambahin deh pake iket kepala ala samurai. Pokoknya sore ini harus jadi makanan buat dibawa ngaji besok harinya.

Ternyata, mendadak saya migren pemirsah. Terkapar tak berdaya oh tidaaak! lebay dikit*
Tapi tetep keukeuh mau eksekusi si pisang. Karena saya udah bawa golok buat nyabetin daun pisang minta tetangga deket rumah. Sampe Pak Burhan, yang lagi bersih-bersih kebon juga ikutan semangat nebangin daun pisang yang tinggiiii sekali diatas. Sampe manjat-manjat tembok segala. Makasih pak atas hasil jerih payah anda. Anda layak jadi security komplek. ^^





Sambil puyeng dan kliyengan, saya masak. Eh ternyata saking kliyengnya gak bisa bedain warna tepung. Asal campur aja, jadilah warnanya coklat gak jelas. Karena emang sengaja saya bikin si nagasari kali ini menggunakan tepung Hunkwe. Sebenernya saya beli Hunkwe ini karena mau dibikin cendol. Eh cendol saya yang pertama suksesss berat looh. Tapi gak sempet acara poto-poto. Karena udah ludes ditangan suami saya dan Sarah. Bikinnya aja bertiga sampe masuk dapur. Heboh dan penuh keringet. Haha.

Lah koq jadi ngomongin cendol siiih? Back to topic.
Nagasari. Udah saya siapin daun pisang, dijemur, dirobek-robek dan agak dipanaskan sedikit layu dan mudah dibentuk. Tapi gara-gara kliyengan itu tadi, akhirnya yang dibungkus daun pisang cuma jadi 7 bungkus. Selebihnya saya punya akal cerdik. Yup, masukin dalam cetakan aja biar cepet. 

Ada yang belum kenal sama tepung Hunkwe? Nih saya kasih bocoran sedikit ya. Haha. kayak ujian aja deh. 

Tepung hunkwe merupakan tepung dari kacang hijau. Tepung ini berwarna putih dan biasanya dikemas dengan kertas berbentuk silender sekitar 18 cm. Jika dimasak tepung ini aromanya harum dan berwarna bening dan kenyal teksturnya. Biasanya diolah menjadi cendol, kue pisang atau puding. Karena agak unik aromanya maka tepung ini sulit diganti dengan tepung lain. Meskipun bisa juga diganti dengan tepung kanji dengan hasil sedikit berbeda.





Resep

Bahan :
- Pisang raja dikukus dan dipotong- potong membujur serong samping
- 400ml santan
- 120 gr Tepung Hunkwe
- Daun pisang yang sudah dijemur dan dilayukan agar mudah dibentuk
- 100gr Gula pasir
- 1/2 sdt garam
- 2 ikat daun pandan simpulkan
- 2 batang vanilla pods, keruk isinya


Cara membuat :
- Masukkan ke dalam panci kecil semua bahan diatas kecuali daun pisang dan buah pisang. Aduk dulu hingga merata
- Lalu bila sudah merata semua bahan, nyalakan api sedang. Aduk terus hingga mengental
- Matikan api bila adonan sudah terasa berat.
- Tata di lembaran daun pisang, gulung dan lipat rapih. Atau bisa juga gunakan cetakan.
- Masukkan ke dalam kukas hingga mengeras.



Akhirnya si nagasari bertransformasi jadi kayak puding. Hasilnya enak sih. Cuma saya lebih suka nagasari memakai tepung beras. Itu lebih juara dibanding ini menurut saya loooh. Kembali lagi ke selera masing-masing.

Nah, bener kan saya bilang resepnya simpel dan praktis gak pake acara kukus mengukus. Ni resep ekspress buat orang migren yang maksain masak. ^^

Selamat Mencoba

***

Balikpapan, 19 November 2013

Senin, 18 November 2013

Jurnalnya Yusuf (2)

Udah lama yah gak update perkembangan Yusuf. Oiya, just info ini blog emang bukan hanya sekedar untuk saya sharing resep dan melulu tentang makanan. Tapi juga sharing banyak hal. Terutama kehidupan dan keluarga saya sendiri.

Ada banyak hal untun diceritakan disini. Curcol? Ah gak juga sih. Toh dulu, saat saya rajin update jurnalnya Sarah disini. Saya jadi banyak tahu, dan bisa membandingkan antara perkembangan Sarah dengan Yusuf dengan umur yang sama.

Buat orang lain sih gak penting. Tapi untuk saya sebagai Ibu mereka. Pentiiing banget. Dan kelak untuk catatan saya serta anak-anak bila mereka sudah beranjak dewasa.

Ya, mudah-mudahan blog ini bisa berumur panjang, walaupun umur saya sebagai manusia sudah pasti ditentukan dan digariskan oleh Allah SWT.

Okey, back to topic. Biasa deh, selalu ngomong ngalor ngidul dulu.

Karena dari judulnya sudah jelas. Jadi didalam tulisan ini gak bakal saya cantumkan resep ya. Haha* yang baca juga udah ngerti kaleee.

Terakhir menimbang Yusuf saat diberikan vaksin BCG. Yup sekitar tanggal 22 September 2013. Dengan BB 6,3kg dan panjang 64cm. Pemberian vaksin dilakukan di klinik kantor suami saya.

Saat itu memang vaksin jenis BCG sedang mengalami kelangkaan di sekitar Balikpapan. Yusuf termasuk ke dalam waiting list untuk mendapatkan BCG. Alhamdulillah, kami beruntung bisa mendapatkannya selang tiga hari dari ulang bulan ketiga Yusuf.

Saat saya menulis ini, berarti Yusuf sudah masuk bulan ke empat. Tak terasa empat bulan sudah Yusuf mulai menapaki kehidupannya.

Perkembangan secara motorik nya baik. Sudah mulai bisa tengkurep sendiri pas di ulang bulannya yang ketiga. Persis seperti Sarah. Memang sengaja saya latih anak-anak saya untuk tumbuh kembang di lantai.

Bukan langsung di lantai sih, karena tetep saya alasi karpet dan perlak biar tak kedinginan. Dengan maksud tak lain adalah agar Ia bisa beradaptasi dengan baik dengan tempat yang keras. Maksud saya begini. Bila Ia terbiasa di kasur terus, Ia akan tumbuh menjadi anak yang terbiasa dengan tempat yang empuk dan nyaman.

Nah, tempat dimana Ia terbiasa diletakkan akan mempengaruhi bagaimana cara Ia bisa menjatuhkan kepalanya saat posisi berguling dan tengkurep. Yusuf terlihat lihat saat menjatuhkan kepalanya di tempat yang keras sekalipun. Jadi Ia cepat sekali bisa berguling-guling kesana kemari.

Dengan bobot yang lumayan berisi, Yusuf bisa beradaptasi dengan baik. InsyaAllah saya akan memberikan ASI ekslusif sama seperti Sarah dulu. Mudah-mudahan bisa sampai usianya dua tahun. Aamiin*

Foto yang terlampir diatas, menunjukkan Yusuf sudah bisa merespon dengan baik. Ia sudah bisa merespon lawan bicaranya. Tersenyum dan tertawa. Ah, hati siapa yang tak luluh melihat tawa cerianya.

Saat lelah mendera, senyum anak-anak lah yang mampu menyejukkan hati. Menjadi penyejuk mata orang tuanya.

Termasuk kategori anak yang rewel kah Yusuf? Tentu tidak. Terbiasa saya gendong? Ah itu mah pola asuh orang jaman dulu kali. Sekarang saya biarkan Ia bermain. Saat sudah haus, baru saya angkat dan berikan asi. 'Bau tangan' kata orang Jawa. Kalo anak yang terbiasa di gendong, pasti Ibunya lah yang susah, jadi gak bisa mingset ngapa-ngapain. Nah, ini tergantung kita juga. Pola asuh seperti apa yang akan kita terapkan kepada anak-anak kita.

Mungkin saat ini juga menjadi landasan dan bentukan. Mau kita bentuk menjadi apa anak-anak kita kelak. Saat masih bayi sekalipun.

Sama seperti Sarah, Yusuf juga berclodi loooh. Ah sayang file foto Yusuf yang lagi mejeng pake clodi nan unyu-unyu itu udah dipindah semua ke lapto siiiih. Jadi lain waktu saya posting disini deh. Gak janji deh,Kalo masih inget* hehe

Walaupun saya akui, memang saya campur dengan Diapers juga sih. Apalagi saat musim hujan datang, waduuuh itu stok clodi berapapun banyaknya gak bakal cukup untuk gonta-ganti seharian. Hujan sama dengan cucian gak kering, sama dengan pake diapers sementara.

Oiya, ada hal yang perlu dicatat disini. Kemarin saya sempet makan enak. Sampe lupa daratan kalo saya lagi menyusui. Saya tuh makan udang. Masak Udang ditepungin pake tepung roti. Tadinya cuma nemenin Sarah makan,eh eh tapi koq keterusan. Jadi habis banyak deh.

Keesokan harinya Yusuf bentol-bentol merah kayak habis digigit semut disekujur kaki dan tangannya. Waduuuuh maafkan mama ya nak! Jadi anak ini sama kayak Sarah dulu, alergi namanya udang.

Oke sip mama catet ya. Besok udang gak ada dalam list makanan mama lagi deh. Walaupun godaannya itu amat sangat beraaat buat saya. Hiks :'(

Sekian dulu ya update jurnalnya Yusuf. Saya udah ngantok yang teramat dahsyat nih. Lanjut lagi next time yah.

***

Balikpapan, 18 November 2013

Salam sukses
Ridha (innatikariedha@yahoo.com)

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT